Thursday, 21 January 2021

Sakit Gigi Ketika di Australia

 Sakit gigi sebenarnya merupakan hal yang biasa kalau di Indo, tapi di Australia, entah kenapa aku merasa ini adalah hal yang luar biasa. Apalagi kalau giginya butuh dicabut atau dioperasi.


Kenapa? karena biaya untuk cabut gigi atau operasi gigi di Australia cenderung mahal. Apalagi kami sebagai student dengan asuransi standard Allianz, yang sudah membayar sekitar 170 jt untuk asuransi sekeluarga selama 4.5 tahun, ternyata biaya asuransi sebesar itu tidak mengcover biaya pengobatan karena sakit gigi. 


Ceritanya yang sakit gigi sebenarnya bukan aku, tapi suami. Gigi gerahamnya sudah tinggal separo dan katanya kadang sakit. Maka kami cari tahulah biaya untuk cabut gigi, atau operasi gigi kalau giginya tidak bisa dicabut dg cara biasa. Dari informasi yang kami terima, ada sebuah rumah sakit khusus gigi, di rumah sakit tersebut ada dokter gigi orang Indo, dan reviewnya sangat bagus. Dan setelah tanya ke teman yang sudah pernah ke sana, untuk cabut gigi bagian geraham (mungkin dg operasi, soalnya kami tidak tahu detail pengobatannya), biaya diperlukan mendekati 2000 AUD (kurang lebih 20 juta). Uang segitu adalah uang yang sangat besar bagi kami. Adalagi tmn yang bilang disitu biayanya sekitar 1000-2000 AUD. Ok, berarti kami harus menyiapkan dana sekitar 10-20 juta rupiah untuk mengatasi masalah gigi ini. 


Akhirnya, aku memberanikan diri untuk booking di rumah sakit gigi tersebut. Ternyata jadwal di rumah sakit tersebut sangat padat. Sebagai gambaran, aku melakukan booking pada tanggal 15 January, dapat jadwal untuk ketemu dkternya tanggal 18 February. Itupun jadwal yang sudah diselip2kan, awalnya kami di tawari Maret. Akhirnya proses booking selesai, yang kami bisa lakukan hanya menunggu dan menyiapkan dana sekitar 10-20 jt yang sebenarnya berat buat kami. 


Kemudian beberapa hari setelah booking, suami ditanya sama tmn nya yang juga punya problem yang sama tentang gigi. Intinya giginya perlu di cabut. Dan tmn ini juga survey ke tmn-temennya yang lain. Tmn ini akhirnya dpt testimoni dari tmn yang lain yang sudah pernah cabut gigi. Dia melakukan cabut gigi di tempat praktek dokter gigi yang dekat dengan kampus, nedland dental clinic, dan kena biaya sekitar 400 dollar (sekitar 4jt). 2 Hari kemudian tmn ini cabut gigi di situ kena biaya sekiat 470 dolar. Dia cerita ke suami. Akhirnya kami pun booking di clinic tersebut dan dapat jadwal ketemu dokter 1 minggu kemudian. dan tidak lupa juga kami berdoa meminta kepada Allah, semoga giginya bisa dicabut d klinik tersebut tanpa operasi. 


Dan ketika kami periksa ke klinik tersebut, ternyata giginya suami lumayan parah, dan kami masih beruntung karena ke kliniknya ndak menunggu suami merasakan sakit. Soalnya kalau menunggu sakit, itu artinya sudah ada infeksi, dan penanganannya lebih sulit. Tapi Alhamdulillah dokternya bisa nyabut. Dan kami kena biaya sekitar 523 dolar atau setara (5 juta 239 rb). Biaya itu sebenarnya biaya yang cukup besar karena hampir 1/3 dari beasiswa sebulan. Tapi kami bersyukur karena tidak perlu operasi dan biayanya lebih murah dari pada ketika operasi. 


Singkat kata, walaupun lebih murah, bagi teman-teman yang akan berangkat belajar ke Australia, mending pastikan sudah tidak mempunyai permasalahan dg gigi. Kalaupun giginya butuh d cabut, mending di cabut di Indo yang biayanya jauh lebih murah. Dan yang lebih penting lagi, rawatlah gigi anda sebelum sakit. 



Thursday, 12 November 2020

It is difficult but possible

PhD is such a long journey. It has been started far before I came to Australia.  It began when I planned to continue my PhD, discussed it with my husband, joined the english course at IALF when I used to arrive home at 9 p.m with my husband and my little daughter. It is not easy, it is difficult.  I knew that my husband was exhausted, but he never complains. After around 2-3 months, I struggle to learn IELTS, Alhamdulillah my score is 7.

The attempt did not stop here; I must get a scholarship. After three months following a series of LPDP test, I have got accepted. Alhamdulillah.  Then, I have to prepare everything for my study with my little family. It is also difficult.

Now, almost 1.5 years, I have been sit in this office, which mean 1.5 years I have become a PhD students formally. But, informally I have gone through the journey for three years, not only me but my husband and my daughter. We are struggling. And I do not know when it will finish? How will it end? Only doa and work hard that I can do. Oh My God, give me and my family easiness to go through this long journey.



NB: perhaps there are some mistakes in my writing, I am so sorry, because I am still learning. Thank you


Wednesday, 14 October 2020

Jurnal Pertamaku di Q1

 Sebenarnya proses untuk menulis jurnal ini tidak instan. Seingatku, aku sudah mulai mendapatkan hasil dari eksperimenku sekitar bulan maret lalu. Saat itu komputer yang dibelikan oleh pembimbingku belum datang, jadi aku terpaksa harus running di google colab. Itupun butuh akses internet yang banyak, padahal waktu itu aku ga punya langganan jaringan internet yang unlimited, jadi terpaksa kalau running harus ke lab. Atau kalau waktunya sore harus momong, ngajak anak ke parents room yang ada di Reid Library. Sementara anak main, aku running eksperiment. Trus akhir maret kalau ga salah, ada himbauan stay at home, setelah ada satu orang di Western Australia yang meninggal. Awalnya sempat bingung, bagaimana harus running? Alhamdulillah, di waktu yang hampir bersamaan dapat kabar kalau komputer yang dibelikan sama spv sudah datang. Boleh di ambil dan di bawa pulang. 

Karena komputer sudah di rumah, alhamdulillah masalah resource untuk eksperimen ga masalah. Alhamdulillah bisa running dengan sangat cepat, yang awalnya butuh 2 jam untuk satu eksperiment, ini hanya butuh waktu kurang dari 10 menit. Bisa dibandingkan bedanya kan. Trus karena masing-masing kasus harus diulang 10 kali, aku bisa eksperiment sambil masak. Jadi running dulu, trus di tinggal masak. Sambil sesekali di cek. 

Alhamdulillah akhir april masalah eksperiment sudah selesai, sebenarnya draft sudah mulai saya tulis juga. Alhamdulillah, draft selesai sekitar bulan mei. Full draft tadi akhirnya direvisi bolak balik oleh pembing ke 4, ke 2, dan ke 1. Awalnya aku bimbingan Full draft ke pembimbing 4, setelah pembimbing 4 Ok. Lanjut ke pembimbing 2, di pembimbing 2 ini proses agak alot. Beliau menanyakan kontribusi. Kontribusi yang tak tuliskan katanya masih kurang. Di sini mulai bingung, down, stress. Akhirnya lanjut baca lagi, nambah eksperiment lagi, begitu terus sampai pada satu titik, aku sudah bosan dan sudah ga tau apa yang harus lakukan lagi untuk paper ini. Dari situ pembimbing satu mulai ikut membantu. Beliau akhirnya mereview draftku walaupun pembimbing 2 belum meloloskannya. Review dari pembimbing 1 selesai dalam waktu kurang dr 1 minggu. Draftku sudah mulai tampak lebih indah. MasyaAllah keren banget pembimbingku ini. Comment dari pembimbing 1 "I like the story, I want to buy this, which mean draft ini menurut beliau layak terbit". Habis itu baru pembimbing 2 mulai mau mereview lagi dan hasil reviewnya lebih tajam. Aku sampe ga bisa tidur, stress, depresi, itulah yang aku alami selama 5 hari. Sampe-sampek aku sholat tahajud menangis minta sama Allah bisa tidur. Rasanya berat, badan capek, pikiran capek tapi ga bisa istirahat. Konsultasi sama teman, disarankan untuk refreshing, olah raga, istirahat sejenak. Akhirnya aku ikuti saran-saran dari teman, tidak lupa juga minta didoakan suami dan orang tua untuk diberi kemudahan. 


 

Alhamdulillah kondisi sudah mulai membaik, badan sudah agak enakan, satu demi satu benang permasalahan tentang draft paper sudah mulai terurai. Kalau ada yang hasilnya tidak sesuai dengan yang diperkirakan kenapa dan mengapa, tak coba untuk menggambarkannya. Hingga ketiga spvku setuju. Akhirnya akhir July ketiga spv setuju untuk submit. "We have to move on", they said. Submitnya kemana sudah didiskusikan, masalah dana ga masalah katanya. 

Tapi sebelum submit, draft ini harus disetujui dulu sama spv ke tiga. Beliau juga senior professor, lulusan kampus ternama dunia, dan native english. Pass banget. Walaupun menurutku sudah ok, tetapi masih ada sedikit revisi dari beliau dan itu masalah written englishnya. "Ternyata ada beberapa kalimat yang menurutku ok, tapi kalau di baca native speaker kayaknya kurang jelas". Habis revisi, bismillah paper tersebut akhirnya submit bulan Agustus. 

Satu bulan kemudian hasil review datang, hasilnya adalah "Major Revision". Awalnya beberapa spv bilang, revisinya mudah. Tapi bagiku ga mudah. AKu kesulitan untuk mencerna hasil reviewnya dan bagaimana harus menjawab. Stress lagi, bingung lagi. Harus kerja lembur lagi. ALhamdulillah suami yang backup masalah anak, kalau lagi perlu lembur. Walaupun sudah kerja keras menurutku, tetapi review tidak bisa selesai di waktu yang ditentukan. AKhirnya minta perpanjangan revisi dikasih tambahan 5 hari. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan sampai akhirnya semua spv setuju dengan jawaban reviewnya, habis itu baru submit.

 

Selang berapa minggu aku nerima notifikasi kalau paper accepted. Alhamdulillah, ini semata karena petunjuk Allah dan bantuan banyak pihak. Semua spv ngasih selamat. Dan ada satu email dr spv pertamaku yang membuatku kagum 

"AlhamduliAllah. May Allah guide us to do what is best. If you keep working hard, you can have another paper in 3 months of the calibre of TIP." 

 

Sebuah doa dan sebuah harapan. Begitulah akhir cerita proses publikasi ini, berat, penuh tangis, tertekan, stress. Tapi dengan memaksimalkan ikhtiar dan tawakkal, insyaAllah bisa. 

"Sharing is caring"




Thursday, 13 August 2020

Karena Tak Mampu

 "Kalau tidak mampu, kenapa kuliah?", suara laki-laki berkumis di depanku itu membuat aku terdiam. Aku tidak mampu membalas pertanyaanya dengan kata-kata. Tetapi tiba-tiba air mataku jatuh dari pelupuk mata. 

Aku merasa bumi seakan berhenti berputar. Ya, ruangan yang sehararusnya rame karena penuh dengan aktivitas pembayaran daftar ulang mahasiswa baru di dua hari terakhir tiba-tiba hening. Apakah ini hening yang sebenarnya? ataukah hening karena perasaanku saja yang begitu hancur karena tidak ada jalan untuk bisa kuliah? 


Setelah mampu berbicara sambil menghapus air mata akhirnya aku menjawab "Baik Pak, mungkin memang orang tidak mampu seperti saya tidak boleh kuliah". Kemudian aku undur diri keluar dari hadapan bapak itu. Di luar aku disambut sama ke dua temenku Asni dan Fajri dan satu kakak kelas ketika SMA yang sudah kuliah disini bernama Mbak Sari yang dengan sangat baik hati mengantarkan kami ke sini. Asni bernasib sama dengan aku, kami datang ke kampus ini karena kami lulus ujian SBMPTN dan daftarnya dibiayai oleh beasiswa BMU (Beasiswa Mengikuti Ujian), saat itu belum ada beasiswa bidik misi. Dan kami baru tahu ternyata beasiswa BMU hanya memberi beasiswa untuk daftar tes SBMPTN dan uang saku untuk ikut tes serta SPP di tahun pertama ketika lulus. Untuk masalah daftar ulang ke kampus yang di tuju tidak dibiayai. Sedangkan Fajri, dia kekampus ini dengan biaya sendiri. Hari ini Fajri sudah selesai daftar ulang. 


"Gimana Nur", Asni dan Fajri yang sedari tadi menungguku diluar bertanya. Aku hanya menggelengkan kepala. Kamudian kulanjutkan "Benar kamu Asni, ternyata kita tidak bisa mengajukan keringanan walaupun sebagai penerima BMU. Karena jadwal kereta jam 5 sore dan sekarang masih jam 2, yuk kita jalan dulu lihat-lihat bagian belakang kampus ini. Mungkin ini adalah hari terakhir aku bisa melihat kampus ini. Aku sudah pasrah tidak bisa lanjut kuliah. "


Kamipun melangkahkan kaki meninggalkan area pembayaran. Kami jalan kebelakang kampus dipandu oleh Mbak Sari yang sudah hafal area kampus itu. Sesampainya di daerah yang penuh alang-alang kami berhenti. Lalu kak Sari bilang "inilah area belakang kampus ini". "OK kak", aku, Asni, dan Fajri dengan serentak menjawab. 

 

Lalu kamipun balik arah, sekarang kami menuju ke tempat pemberhentian angkot yang jaraknya sekitar 20 menit jalan kaki. 

Kami berpisah dengan kak Sari di situ. Kak Sari mengantarkan kami ke Angkot sambil bilang ke sopir angkot kalau kami berhenti di perempatan rumah sakit menuju ke stasiun Gubeng. Habis itu beliau balik ke kosnya. Sedangkan kami bertika naik angkot. Turun dari angkot kami jalan sekitar 10 menit untuk sampai di stasiun. Kami sampai di stasiun jam 4 sore, masih ada waktu kami sholat dulu, habis itu nunggu kereta. 

 

Di kereta aku bertanya kepada Asni "Gimana As, apa rencanamu selanjutnya?","Mungkin aku ikut kursus 1 tahun saja, habis itu kerja, kalau kamu gimana?". "Aku tidak tau As." Benar, waktu itu aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Bagaimana tidak? impian kuliah yang sudah lama aku idam-idamkan sudah pupus. Ya, aku sangat ingin bisa kuliah. Aku sadar kalau aku dari keluarga miskin. Bapakku adalah seorang buruh tani, yang kerjanya membantu orang dengan gaji 1500 rupiah perhari dan ibuku adalah seorang pedagang kelontong. Penghasilan sehari-hari hanya cukup untuk membiayai ketiga anaknya. Makan dengan nasi dan zlantah (minyak sisa untuk menggoreng ikan asin) sudah biasa bagi kami. Bagaimana kami bisa membayar uang daftar ulang 4.500.000 rupiah? itu uang yang sangat besar buat kami sekeluarga. (bersambung)


 

 

Wednesday, 21 August 2019

Semua ini tidak mudah

Tidak terasa sudah 2 bulan kami disini. Berada di negara asing, berangkat bareng bersama keluarga. Santai itu hanya di minggu pertama kedatangan, karena pada waktu itu uang saku masih lumayan, belum ada beban kuliah, dan lain-lain.

Lalu kemudian saya mulai dengan aktivitas ngelab. Kenapa ngelab? padahal ngerjakan dari rumah juga bisa, secara kan jurusannya computer science. Jawabanya adalah karena ingin fokus. Namun hal ini tidak mudah bagi suami yang biasanya bekerja sekarang hanya dirumah momong anak. Sungguh aku merasakan bagaimana tertekannya suami. Dan Aira juga mulai tertekan karena tidak punya teman main. Dia sempat protes dengan membantah apa yang kami perintahkan. Dan sedihnya lagi ketika dimarahi, dia nangis sama minta pulang ke Indo. Sedih sekali kalau mengingatnya.

Minggu-minggu berikutnya kami mulai terbiasa menjalani aktifitas ngelab dan momong, namun kendala lain datang yaitu beasiswa yang ga cair-cair padahal sisa uang sudah menipis. Hal ini sebenarnya salahku juga sih, tidak segera lapor dan ngajukan beasiswa waktu pertama kali datang. Kekhawatiran mulai muncul, dan membuat diri ini tertekan. Hingga akhirnya tepat di minggu ke 4 kedatangan beasiswa keluar. Alhamdulillah

Kemudian bulan berikutnya suami mulai bosan, suami mulai bingung mencari kerja. Ini juga membuat suami tertekan. Ternyata cari kerja di sini tidak semudah seperti yang saya tanyakan ke teman-teman. Akhirnya suami dapat kerja loper majalah, 2 kali seminggu dengan gaji 100 dolar lah ya perminggunya. Tapi ini lumayan berat karena harus pake sepeda, bawa barang yang berat di jalan yang naik turun. Kasihan juga aku melihatnya.

Akhirnya kami putuskan untuk beli mobil, alhamdulillah dapat mobil yang harganya miring dengan tahun yang masih baru. Setelah beli mobil, baru nyadar ternyata uang tidak cukup untuk biaya hidup 2 bulan ke depan. Tertekan lagi, stress lagi, depresi lagi. Subhanallah beginilah dukanya sekolah, tantangannya banyak.

Hanya doa yang menjadi harapan "Semoga Allah memberikan kemudahan, memberikan kesabaran pada kami sekeluarga untuk melalui ujian ini". Aamiin

Bagaimana cara mengecek apakah suatu module sudah terinstall di python apa belum?

Langsung aja ya, untuk mengecek apakah suatu modul sudah terinstall atau belum di dalam python bisa menggunakan cara berikut:

1. Di dalam python terminal ketikkan perintah  'import sys'
2. Kemudian ketikan perintah 'nama modul' in sys.modules. Contoh jika mau ngecek apakah numpy sudah ada atau belum ketikkan 'numpy' in sys.modules
Jika ada maka akan dikeluarkan jawaban 'true', jika tidak maka 'false'
3. Contohnya adalah seperti gambar berikut:



atau kita  juga bisa menampilkan seluruh daftar modul yang ada di pyton dengan mengetikan help () kemudian ketikan modules. Contohnya adalah sebagai berikut:






maka contoh hasilnya adalah seperti berikut:


Sekian, semoga bermanfaat

Saturday, 29 June 2019

Inilah Biaya yang Harus dikeluarkan Ketika Mengajak Keluarga Kuliah di Australia

Karena teringat dulu waktu rencana kuliah bersama keluarga berapa biaya yang harus tak siapkan? Cari-cari di internet ndak nemu, akhirnya saya tulislah rincian biaya tersebut disini.

Pertama, biaya yang harus disiapkan adalah biaya asuransi. Biaya asuransi ini beda-beda tergantung lama studinya dan tergantung jenisnya (single, couple untuk yang belum punya anak, family untuk maksimal anak 2 kalau tidak salah). Untuk kasus saya, karena saya adalah mahasiswa PhD 4 tahun dengan 1 anak, maka harus bayar yang family untuk 54 bulanan kalau ga salah yaitu sebesar AUD 17.100 = Rp 171.000.000. Besaran itu juga tergantung dengan provider asuransi (OSHC kalau di Australia). Dari membandingkan beberapa provider asuransi, membayar asuransi lewat kampuslah yang menurut saya paling murah karena kita mendapatkan diskon mahasiswa. Kalau diluar yang dari kampus bisa nyampe 200 jutaan. Dalam kasus ini sebanya 3420 aud sudah dibayarkan beasiswa jadi saya tinggal mbayar sisanya sekitar 138 jt.

Kedua, biaya tes kesehatan. Waktu itu saya tes kesehatan di RS Premier surabaya. Untuk yang dewwasa harus pakai foto ronten sehingga biayanya 1.100.000, untuk yang anak-anak dibawah 5 tahun membayar separonya. Jadi total 2 dewasa 1 anak biayanya IDR 2.750.000, biaya ini tentu beda jika jumlah anak bertambah.

Ketiga, tiket pesawat. Waktu otu saya naik Garuda Indonesia, soalnya ini penerbangan yang jauh bagi anak saya pertama kali. Jadi kalau ga nyaman, takut anak rewel. Kelemahannya lebih mahal sih. Waktu itu saya habis 16.400.000, karena ada promo jadinya kena 15.400.000 untuk 3 orang. Anak dibawah 11 tahun hanya membayar 80 persen saja. Untuk tiket ini beda maskapai tentu beda. Sebenarnya ada maskapai Scoot, air asia yang jauh lebih murah sekitar separonya kalau mau hemat.

Ke empat, tempat tinggal. Karena bawa keluarga dengan anak kecil, saya harus memastikan kalau nyampe harus sudah ada tempat tinggal. Jadi saya cari tempat jauh2 hari sebelumnya. Alhamdulillah ada teman yang lagi kuliah disana yang berdia inspekan. Untuk tempat tinggal 1 minggu beserta bondnya saya mengeluarkan 1020 AUD= Rp 10.200.000

Kelima, biaya visa. Biaya visa untuk 1 orang atau 1 keluarga sama saja. yaitu 575 AUD=Rp 5.750.000 beserta tarif kalau pakai CC sekitar 9 dolar kalau ga salah. Karena saya waktu itu bermasalah dengan agen pertama visanya ndak diurus2, saya pindah ke agen kedua, jadinya saya dikenakan biaya jasa pembuatan visa sebesar 1.500.000, jadi total yang saya keluarkan adalah 8.750.000 an tepatnya sudah lupa ya

Keenam, uang tabungan di bank untuk biaya satu tahun. Karena saya ditanggung beasiswa sedangkan anak dan suami belum, jadi harus ada uang dibank untuk jaminan kita disana tidak terlantar minimal dalam 1 tahun. besarannya sudah ditetapkan diwebnya, namun kira-kira sekitar 100 juta lah ya. Kalau saya, karena pas-asan, buku tabungan saya print dulu, baru saya ambil untuk mbayar asuransi.

Jadi, agar lebih aman mungkin kita bisa disiapkan 138 juta+2,75 juta+ 15.5 jt+10,2 jt+ 8,75 jt+100 jt ya sekitar 250 jt an lah insyaAllah cukup.

Bagi yang mau sekolah ke Australia, saya doakan semuga dimudahkan Allah. Aamiin

Wednesday, 26 June 2019

Hari pertama tinggal di perth

Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, Aira makannya sangat lahap sekali. Bahkan dia nambah sampai 3 kali makan.

Ceritanya setelah sampai di Perth jam 16.00 tanggal 25 Juni, kami di jemput oleh Rian (sopir pada bagian penjemputan dari kampus). Dia bawa elp (nyebutnya mini bus sih) dan kami diantarkan ke rumah. Kira-kira bukul 17.30, kami nyampe rumah. Alhamdulillah, pintu rumah sudah terbuka dan kunci d taruh di dalam (sesuai permintaanku, karena aku tibanya malam) jadi blm sempat ketemu renternya. Kemudian saya minta Rian untuk ngajari cara ngunci rumah, siapa tau beda.

Drama pertama dimulai malam itu, kami lapar dan tidak tau harus makan apa. Untung d tasnya Aira ada snack oreo, jadi kami makan. Tetap lapar, kemudian kami pergi keluar nyari toko. Untung sebelumnya Rian sudah bilang kalau ada toko di perempatan. Kami ke sana jam 8 malaman. Ternyata diluar sepi. Bener kata teman, d pert ramenya cuma jam 10-5 sore saja. Di sana kami beli mie (indomei), crackers, sama jajan aira satu. Habis itu pulang. Alhamdulillah jarak rumah ke toko 3 rumah tapi harus mutar.

Nyampe rumah, bingung cara masak mie karena ga punya panci, ga tau vara ngidupin kompor, dan ga punya mangkok. Akhirnya kami naruh mie d piring, rendam mie pake air hangat dr keran (airnya bisa d minum), tunggu 30 menit. Jam 9 an malam kami baru makan mie. 1 mie instan untuk bertiga, lahap sekali. Habis itu aira minum obat dan tidur.

Oh ya, waktu itu kami ga ada akses internet krn nomor barunya blm aktif. Nomer dr indo ga bisa untuk akses internet karena pulsanya kurang, butuh 190 rb per hari kalau mau pake s***pati. Akhirnya kami tidur.

Alhamdulillah pagi2 teman yg kuliah di sini sms, mau ke rumah jam 10 pagi. Alhamdulillah ada harapan, paling ga bisa minta tmn untuk aktivasi nomor karena untuk aktivasi nomor butuh akses internet.

Sebenarnya sebelum tidur masih ada beberapa drama seperti sikat gigi ga ada padahal seingatku bawa dr indo, ndak bawa alat buat mbuka hp, dll. Yang membuat suami menyalahkanku karena aku yg packing. Tapi kimi tidur aja.

Saya bangun pagi jam 4 waktu sini. Subuhnya jam 5.50, alhamdulillah masih banyak waktu untuk sholat tahajud. Habis sholat ringkes2. Naruh barang2 bawaan ke lemari. Kami bawa 3 koper, sebagian besar berisi baju dan sebagian besar bajunya tidak terpakai 😂 karena disini lagi musim dingin.

Saya pilihi baju yang tebal saja. Saya tata d lemari dan baju yang tipis masih tetap d koper. Alhamdulillah suami sudah mulai membantu. Rumah mulai rapi dan kami sholat subuh. Habis sholat shubuh kami bangunkan aira dengan paksa, karena waktunya minum obat. Sebelum berangkat kami ke Ausie kami bawa Aira ke dokter karena batuknya makin parah.

Habis merayu Aira minum obat kami baca2 buku panduan studi in perth, banyak sekali informasi pentkng yg baru kami ketahui yg seharusnya tahunya waktu masih di Indo.

Jam 8, mulai lapar. Bingung makan apa. Akhirnya kami makan sereal. Dengan susu yang dingin. Satu piring bertiga. Habis itu kami mandi. Jam 10 lebih tmnku datang. Alhamdilillah. Nomorku mulai diaktifkan, prosesnya lumayan agak panjang. Kemudian kami di antar ke Kmart untuk beli rice cooker. Alhamdulillah, semua kebutuhan sudah kami catat seperti pisau, panci dll. Sehingga belanjanya cepat. Habis dari Kmart pas nyampe rumah pas petugas rental datang. Kami janjian jam 2.30. Habis itu dijelaskan tentang perjanjian pake inggris dan auper cepat. Aku nangkepe ya dikit2 karena blm terbiasa, walaupun ielts 7, tapi listening di tes tdk secepat realnya disini. Tapi alhamdulillah, sudah tak baca dulu isi surat perjanjiannya jadi bisa ngira2 tentang apa isinya.

Habis iti tmnku pualang, dan kami mulai sadar kalau kami nlm makan siang. Aira harus ikut prihatin juga ga makan. Alhamdulillah tmnku tadi bawa roti, jadi bisa d makan. Habis itu sholat d jamak. Seingatku ada waktu 3 hari kami boleh jamak sholat (aturan islam itu bener2 memudahkan)

Habis sholat, mandiin aira. Baru kami belnaja bahan makanan seperti beras dan sayuran. Habis itu jam 7 baru kami nyampe rumah, bisa masak beras, alhamdulillah. Jam 8 nasi matang. Kami makan dengan sambel dan abon(bawa dari indo) rasanya nikmat banget. Sampe aira nambah 3x. Hari ini alhamdulillah urusan perut sudah hampir beres. Tinggal satu saja yang belum yaitu blm bisa nyalain kompor. Besok d coba lagi. Tapi alhamdulillah kami bisa kenyang malam ini. Ditutup dengan sholat jamak magrib dan isya, habis itu kami tidur. Besok bisa fokus ngurus administrasi.



Ini foto aira waktu nungguin hujan reda ketika mau beli beras dan foto sebwlum tidur yang dikirim ke budhenya.





Wednesday, 1 May 2019

Batuk Aira

Seperti biasanya, Aira selalu batuk setelah makan sesuatu yang membuatnya alergi. Masalahnya, saya sendiri tidak tahu dengan pasti alerginya apa. Dua minggu kemarin dia batuk lagi. Hampir setiap malam, dia bangun dan batuk. Batuknya seperti dalam sekali. Padahal sudah konsumsi procumin dan ekstra food. Kalau sudah begini, uminya sudah ndak punya hati, jadilah Aira dibawa ke Pak Prof, dokter anak langganan. Ini adalah sebagai ikhtiar agar Allah memberikan kesembuhan.

Seperti biasa dari Pak Prof di kasih obat sehingga total yang harus dikeluarkan adalah mendekati 450 rb, kalau menurutku uang segitu mending disumbangakn saja sebenarnya. Setelah obat dari Pak Prof habis, batuknya tidak langsung sembuh sih, tapi lumayan berkurang. Habis itu tak kasih habatussauda 1/2 kapsul plus ekstrafood. alhamdulillah berangsur-angsur sembuh.

Lha kemarin, dia ikut abinya. Makannya lumayan sembarangan. habis itu malam nya makan kacang hijau, kerupuk, dan ayam. Paginya dia sudah uhuk2 lagi. Sambil berdoa, ini tak kasih habbatussauda dan ekstrafood lagi. Alhamdulillah sampai tak antarkan tidak batuk.

Monday, 15 April 2019

Before the real PhD Life start



Actually, InsyaAllah I will start my PhD on nect July, 1 in the University of Western Australia (UWA). Hopefully, I can depart to Australia together with my husband and my little doughter. As a PhD mom, I know that my life in Australia will not easy. So from now, I start to prepare my PhD.
What have I done for my PhD preparation:

1. Money. I have prepare the amount of money far before I apply for my PhD. Since, I want to go for PhD with my family, so I need the lots of money. I need more than one year to prepare the money. I konw it still less, but I do remember my friend quote "Don't use yor calculator, use Allah calculator instead". Bismillah, "Hope Allah will give the best".

2.  Read paper. When I asked my friend whois pursuing PhD in Netherland about PhD life. She said, "when pursuing PhD, you need to read a lot of paper". This website (https://www.researcher-app.com) offer me a lot of paper. I tried to read the paper when I have a spare time, but my problem is I do not know how to read the paper effectively and how to find the paper which is has best fit for me. May Allah give the clue. Aamiin.

3. Try to do the research by myself. I start to learn new thing by my self. I know, when pursuing PhD i have to have problem solving skill. For this month I try to learn about python, theano, tensorflow, and keras. I face some problem for two weeks, problem about installing the library and problem about starting the library. And than this tutorial help me a lot to install the library (https://www.youtube.com/watch?v=-3Iz9S4yg90) and this website help me to solve my problem about launching the spider in the environment (https://stackoverflow.com/questions/34217175/spyder-does-not-run-in-anaconda-virtual-environment-on-windows-10). Alhamdulillah, after a hard problem, there is a solution.  


Tuesday, 7 August 2018

Cari Surat Kesehatan, Bebas TBC dan Bebas Narkoba di RS dr. Sutomo untuk persyaratan LPDP

Alhamdulillah, setelah tiga hari bolak balik ke RS dr Sutomo akhirnya surat yang diperlukan pun jadi. So, bagi teman-teman yang mau cari surat kesehatan, surat bebas TBC dan surat bebas narkoba mungkin bisa mengikuti alur berikut ini.

Hari pertama, datang ke gedung yang melayani medical checkup di RS dr sutomo, seingat saya gedungnya berwarna hijau dan putih. Kalau tidak tahu tanya ke satpamnya. Tempat yang melayani medical checkup untuk beasiswa ini ada di lt2 gedung tersebut bagian pojok timur utara. Di situ nanti teman-teman akan ditanyai keperluannya, bilang untuk LPDP LN gitu mereka akan tau. Disitu saya harus mbayar 256.000 karena waktu itu saya minta legalisir. Dari ruang tersebut saya diperiksa denyut jantung dan tekanan darah, dirontsen, habis itu diberi surat pengantar untuk ke poli paru.
Oh ya, poli paru letaknya digedung sebelahnya yang warnanya lebih hijau. Sebelum ke poli paru, kita harus ngambil antrian dan daftar. Jangan lupa menunjukkan kuitansi yang tadi dibayarkan, sehinggga kita hanya butuh mbayar 17.500 untuk registrassi saja. Kalau sudah regustrasi langsung menuju ke poli paru, letaknya di lt 2 sebelah barat lift. Setelah sampai dipoli paru, surat pengantar dan bukti registrasi tadi ditumpuk. Kita menunggu untuk dipanggil. DI situ saya harus antri sekitar 2-3 jam. Jangan lupa pake masker demi menjaga kesehatan. Setelah dipanggil nanti dokter akan tanya keperluan kita dan kita dikasih surat pengantar untuk ke lab mikrobiologi ngambil sampel dahak. Tempatnya ada di gedung yang pertama tadi satu gedung dengan tempat medcheck tapi di lt 1. langsung aja ngambil antrian pengambilan sampel microbiologi, antrinya ga lama. Dari situ nanti kita dikasih dua tabung untuk tes dahak. Satu tabung untuk dahak setelah bangun tidur dan satu tabung untuk setelah makan. Kegiatan hari pertama selesai.

Hari kedua, kembali ke tempat pengambilan sampel untuk ngantarkan dahak. Di sana saya harus bayar 50.000 untuk biaya labnya. Hasil labnya bisa diambil besoknya. Karena hari kedua ini ndak perlu ke poli paru, saya lanjutkan dengan tes bebas narkoba. tempatnya di gedung paling belakang dekat forensik. DI sini saya cukup nunjukkan kuitansi yang dibayarkan pada hari pertama, kalau tidak ditunjukkan kita akan dimintai uang 200.000. Tes ini hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Habis itu saya mampir ke tempat medcheck untuk ngambil hasil foto rontsen saya.

Hari ketiga, saya ngambil hasil tes dahak saya. Tempatnya satu gedung dengan tempat naruh dahaknya. Setelah dapat hasil tesnya saya fotokopi 2x, disertaai fotokopy ktp dan hasil rontsen saya ketempat poli paru. dimuali dengan registrasi dan mbayar 17.500 lagi. Di poli paru ini nunggunya lama 2-3 jam lagi. Di sana nanti hasil tes dahak dan rontsen akan di baca dan diberi surat pengantar apakah TBC atau tidak. Keluar dari poli paru saya kembali ke tempat medcheck dengan membawa surat pengantar dari poli paru. Di medcheck kita akan dibuatkan surat keterangan sehat dan bebas TBC nya. Akhirnya selesai. Jadi total uang yang sy keluarkan adalah 350.000

Semoga bermanfaat bagi teman-teman pejuang LPDP

Monday, 16 July 2018

Sekolah ala Aira

Hari ini adalah hari pertama bagi anak-anak sekolah untuk kembali ke sekolah karena libur panjang. Pagi-pagi Aira (umur 21 bulan) sudah bawa tas, dan minta salim ke uminya. Lalu terjadilah percakapan antara Aira (A) dan Umi (U)

U: adik Aira mau berangkat sekolah
A: ya
U: dimana?
A: Mama (Mama adalah panggilan Aira buat pengasuhnya. Setiap pagi dia selalu diantarkan ke pengasuhnya sebelum Umi berangkat kerja)
U: Gurunya siapa?
A: Awang (Anak pengasuhnya)
U: Naik apa?
A: Naik-naik kepuncak gunung, tinggi tinggi sekali (Sambil nyanyi)
U: ngakak

Karena uminya lagi ngamati perkembangan anak, maka ditulis disini. Ada beberapa hal yang umi dapatkan
1. Ibaratnya chat bot, mungkin A diatas mesinnya masih sangat sederhana, kamus yang ada didatanya masih sedikit, dia menjawab dengan kebiasaan sehari-hari, trus dengan keyword kata tertentu, seperti naik, karena naik yang dia kenal itu adalah lagi naik-naik ke puncak gunung 

Sunday, 8 July 2018

Finding a University to study

After receiving my IELTS certificate, I tried to find a university. I have some criterias to choose a place to study. First, I want to study in english country. I had finished my master in Taiwan which was not an english country and now I want to study in an english country because I want to improve my English skill. I realized, If I have good english skill, it will easy for me to write academic publication and to learn since most of the literature are in English. Also, since I have a doughter, later after I finished my study, my doughter will not get a difficulties to return to Indonesia. Second, I want to study in a country which offer worker visa for my husband. In this case, I find two countries: Australia and New Zeland. In this case, first I try to find a University in Australia. I contacted my friend who studied there. Alhamdulillah, the friends responded fast. He sent me the web of professor in his university and I tried to find the research of the professor. Finally, I found the professor who is muslim.

Later, I sent him an email which consisit of my CV, research proposal, and other document but after two weeks waiting he didn't reply my email. Then I told my friend. Again, he helped me by facing the professor directly and told the professor about my email. The professor said that he did not read my email, then he asked my CV. I sent the CV to my friend and then he handed in the Cv to the provessor. And finally, the professor agree to be my supervisor. He introduced me to the admission office in the university.

Thus, the admission office sent a document to be filled. Since some of the form are difficult for me, I ask a help from IDP. Finally, on 22 June I have received the LoA from the UWA. The next is my journey to get a scholarship.

Tuesday, 15 May 2018

Alhamdulillah, My IELTS Result is satisfying

This is the late post. In the last one month I am so busy to complete my scholarship and my PhD application that I did not have time to write. After that I was busy to write my publication. But late is better than never. Therefore, I am writing this article.

I have taken the IELTS test on March, 10, 2018. So, the result must be appear on March 23 and I can see the result on-line. However, when I opened the web site in  https://results.ieltsessentials.com/ and I filled my data, the result did not come yet. In my mind "Oh my be, the result has not come". Then in every two hours, I tried to see the result but the same thing always happen. Until in saturday morning, I realized that I might had filled the wrong data. I realized that my family name must be one word, not two words. Thus, I put my last name as my family name, and the rest of my name as my surename. And jreng....jreng... my IELTS result was coming. And It is very satisfying. My overal band was 7, and my minimum score for each band was 6. So that it is enough to apply a place to continue my study in overseas.  I am so happy with my result, it was over my expectation since I realize that my English was not so good. And thanks to Allah for this result.

Here, I want to share about my activity before taking the IELTS test. When I started to learn english again, my English position was in SP 8 (5.5-6 ielts score). Then I do these thinks:
1. I had taken general English for SP 8 for two months
2. Every day, I try to do the IELTS practice for one package test. I used Cambridge IELTS book from 3-10. So I could finish one book in for days.
4. I read the book 'grammar for ielts'. It also very useful.
5. When doing the speaking, I always record  my speaking and hear it after the test. So I know my weakness.
6. Every day, during my activity to work I always listening to bbc radio
7. I ask my parents , my husband, my mother and low, and other people tha I could not mention to pray for me
8. The last is doa.

Next I want to tell about my activity to find a scholarship and school. I hope this story is usefull for those who want to improve their IELTS score. Thank you

Monday, 19 March 2018

Roselea Virus

Last Thursday, Aira got fever. Her temperature was over 38 celcius. At firs, I was not too worry, since it was not too high. I though it was triggered by her teeth that would appear. Nevertheless, in the next day, Friday, her temperature was higher. It was around 39 celcius. I gave her paracetamol in order to made her temperature normal. However, paracetamol could not work. Four hours after she consumed the drug, her temperature high again until 39 but I could not give her paracetamol again, since the drug could be given at most after 6 hours.

Then, at night I accompanied her to visit a doctor, dr. Reza Rahnu, Sp.A. After examined her, the doctor said "if on Sunday the fever would not recover, she must took complete blood test". And during this three days I have to observed her. If her temperature was high and she was not allowed to consume drug, just cover her with a piece of textile which had been washed with mineral water until her temperature aound 37. Therefore, during the fever, I did the doctor's suggestion.

At saturday night, her temperature was higher than before. It reached 40 point something. I worried with her condition. I had prepared everything   incase she must be hospitalized. I was going to go to the hospital if after comsuming the drug, at 10 p.m., her temperature would not reducing. Fortunaly,  at 3 a.m. her temperature decreased into 38 and in the morning it was normal.

I consulted her condition with my friends, and she suggesed that I did not need to bring aira to take the blood test. This morning, her temperature was normal, however, I found red skin eruption in her body. WHen i consulted it to my friends, she said that it was roselea virus and I did not need to worry about it.   Now, the skin eruption is there, I hope my little daughter will get better soon. Aamiin

Monday, 12 March 2018

Taking the IELTS test

Last Saturday I took the IELTS test. I had studied hard before. Eventhough I did not join the IELTS orientation course, almost everyday when I did not have class I did IELTS practice from cambrige book. I had finished cambridge IELTS practice 1-10. In average my score was 6.5 in the beginning and 7 in the second part. However, I did not know my score for speaking and wriring since I could not mark the result by myself. Beside studied the cambridgeIELTS practice, I studied the ELTS for grammar that I though important.

In the end, the ielts test day came. I had tried hard to prepare it. The last change that i can do was praying. For the listening test, i though i could follow the listening. Only three questions which I did not sure the answer. The same condition also occured in the reading test. In writing test, as I  remember i could write for 150 in the first task and 250 in the second task. However I did not have time to check the vocab also I did not have time to write the summary of the task 2. For the speaking, the one that I tried to remember the grammar and some ideas. Nevertheless, when the speaking come, I did not have time to think. I feel that i speak spontaneusly. Moreover, in the section two of speaking the examiner stopped me while i was speaking. I did not know how the result will be.

That was the review of my ielts test, we will see the result next two weeks. While waiting for the result, I will write the research proposal and finishing my project.

  

Tuesday, 2 January 2018

IELTS PREPARATION VS GENERAL ENGLISH

Today I did the placement test in one of famous english course place in Surabaya. Why? because I want to take english course before taking the IELTS test. The score is my english level in SP 8 (detail: TOP:7, writing: 7, and speaking 8).

Knowing the score, I continue to register for english course because I want to get score at least 6.5, and english level in SP 8 means the ielts score around 5.5 - 6. Here, I have to choose either IELTS preparation which is cost 3.950.000 or  General English which is cost 3.250.000.

After discussing with friends, I get some conclusion: If you want to improve your english skills you need to take general english course. While if your English is good, and you need to get used to with IELTS test you need to take IELTS preparation. In my situation, my English skills in ordinary and I need to improve my english skills therefore I decided to take general english course. For the IELTS test, I will try to learn it by my self. Only do'a and trying that I con do. And Hoping this coming IELTS test I will get a good score. So this story will be continue.

Notes: thank you very much for my lovely husband who always support me. Not only for the material but also everything. And also thank you very much for my little doughter who always make me lough.  



Sunday, 31 December 2017

Langkah 1

Tidak terasa sudah 6 bulan sejak saya memutuskan untuk melanjutkan studi lagi. Dan ternyata selama ini belum banyak yang sudah saya lakukan. Entah karena apa, kesibukan mengajar, memasak, momong anak, dan entah apa lagi.

Dan ternyata selalu sama, semangat untuk mencari S3 itu kembali menggebu ketika mahasiswa sudah pada libur. Semoga untuk kedepannya, semangat ini tetap terjaga. Karena proses mencari PhD itu panjang. Perlu banyak pertimbangan yang harus dilakukan mengingat saya berencana untuk sekolah bersama suami dan anak saya. Mencari PhD itu sulit, keluarnya sulit, tetapi prosesnya sangat berharga.

Ok, untuk satu minggu ini yang harus saya lakukan adalah:
1. Mencari negara, universitas, dan professor dimana saya harus sekolah. Saya tidak tahu harus sekolah kemana, tetapi di dalam hati sebenarnya pengen sekolah ke negara yang bahasa pokoknya adalah bahasa Inggris. Mengingat kemampuan bahasa Inggris saya tidak bagus, makanya pengen memperbaiki dengan sekolah. Adapun cara untuk nyari sekolah yang akan saya lakukan, mungkin bisa mengikuti nasehat disini cara mencari sekolah.

2. Menyiapkan CV. Untuk templatenya sudah ada sebenarnya dari teman yang sekarang sedang sekolah PhD. Namun belum sempat dibuka waktu dirumah. Semoga besok lusa bisa mulai untuk mengerjakan.

3. Research proposal. Sebenarnya belum ada ide. Tapi saat ini sebenarnya saya juga sedang menulis jurnal dari hassil penelitian saya dengan mahasiswa. Semoga bisa membantu.

4. Menyiapkan bahasa Inggris. Ini yang membuatku tidak jadi kuliah ke Eropa atau Australia ketika S2 dulu. Kendala bahasa Inggris. Dulu IELTS ku masih 6. Dan beberapa bulan lalu, setelah ikut les, IELTS ku juga masih 6. Ini rencanya bulan ini mau ikut les lagi. Dengan biaya yang tidak murah. Aku harus merogoh kocek 3.950.000 plus 2.800.000 untuk les plus tes. Mungkin bagi sebagian orang uang segitu kecil. Tapi bagiku, uang segitu sangat besar. Apalagi saat ini harus berfikir untuk mengangsur rumah dll. Tetapi gapapa, untuk kebutuhan yang lainnya puasa dulu. Didulukan kebutuhan ini.

5. Berdoa, ini yang harus selalu saya tingkatkan. Meminta yang terbaik dari Allah.

Mungkin sampai disini dulu, berikutnya semoga bisa menulis lagi....

Sunday, 16 July 2017

Starting from Here

Six years ago I got my master degree. As a lecturer, I must continue my study. However there are a lot of reasons that make me postpone my study.

Now those reasons already solved. I want to continue my study with my husband and my daughter are. However there are four main problems that must be solved: foreign language certificate, scholarship, Letter of Acceptance (LoA), and Fund (because I want to study with my family in my side).

Heavy though facing those problems. But with "Bismillah", I am sure Allah will help me and my family.

Bismillahirrahmannirrahim. The adventure is starting from here. Help me Oh Allah. Give me Your guidance. Aamiin

Saturday, 22 October 2016

My little Daughter

Her name is Aira Zakiyyah Mayza. She was born one month ago on 24 september 2016 at 5.10 pm in Rumah Sakit Islam Jemur Sari. Afterwards everything is changing in my life. Now, I am not only a wife but also a mother.

Need around 2 weeks for me to adapt with this new condition in my life. I don't know, what was happen. But when I got a little pressure, I was crying. When I told my friend, she said that I got baby blues.

Although need a long time, but little by little it was changing. I try to become strong. And in the third week, my mother return home. Now, only My husband and I are taking care of our daughter, Aira. In the first day, second day, third day...it was like we work as marathon. Tired, yes very tired. Until in two days before, Aira can not sleep in the afternon...she often crying. She did not cry only when she got breast feeding or carried.

Ok...the story was stop here...because she is crying